Kepergian

8 February 2011

Headline koran Kedaulatan Rakyat  pagi ini (08/2/11) isinya mengerikan. Sebuah bus penumpang jurusan Semarang-Jogja jatuh ke jurang dan  menewaskan belasan penumpang. Pengemudi  gagal mengendalikan laju bus yang berkecepatan cukup kencang itu di turunan menikung di daerah dekat Temanggung, dan akhirnya kendaraan menabrak pohon mahoni berdiameter 1 m, sebelum jatuh dan ringsek. Selepas jatuh, bis juga tertimpa beberapa pohon yang ikut tertabrak.

Sampai berita koran diturunkan, masih ada korban yang terjepit dan merintih kesakitan, sementara yang lainnya meninggal dan ada juga yang tidak sadarkan diri. Korban-korban dievakuasi ke beberapa rumah sakit terdekat.

Ya Allah, berita musibah yang memilukan tersebut seakan kembali mengingatkanku pada kumpulan tragedi moda transportasi darat di negeri ini, yang seakan tidak pernah berhenti datang dan datang lagi…

***

Kutinggalkan si bungsu Maira sendiri dalam lelapnya, sembari berharap tidurnya bertahan cukup lama. Kasian,  tadi cape banget beraktivitas, tapi waktunya istirahat ternyata susah diajak bobo. Butiran kristal keringat kulap dari jidatnya, dan kutinggalkan ia sendiri. Diam-diam hatiku luruh melihat sosok mungilnya yang cantik. Tidur paginya memang sangat kesiangan, sebab tadi malam dia mengajak begadang sampai jam setengah empat pagi.

Sudah beberapa hari, aku bahu membahu dengan isteri menangani semua pekerjaan rumah, sembari tetap harus bekerja dan mencari nafkah. Biasanya kami dibantu pembantu rumah tangga, tetapi saat ini mereka habis tak bersisa, karena yang terakhir bertahan pun akhirnya pamit karena menikah secara mendadak.

Lumayan juga, karena pekerjaan rumah tak pernah ada habisnya. Dari mulai menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika, mengasuh anak dan seabrek lainnya. Apalagi ditambah dengan kepindahan sanggar dan tempat kerja isteriku, semua menjadi berjubel menunggu tangan meraih dan membereskannya.

Untunglah ada secercah harapan. Langganan isteriku, seorang penyedia jasa pembantu dari Magelang memberi kabar bahwa hari ini ada tenaga yang siap kerja yang akan ‘dikirimkan’. Alhamdulillah, mudah-mudahan nanti beban pekerjaan akan sedikit terbagi.

***

Kututup telepon setelah menerima pengaduan isteriku yang masih menyisakan debaran jantungnya yang berdegup kencang dan tubuhnya yang agak gemetaran.

“Yah, bu Ana meninggal… kecelakaan di bus! Itu yang ada di koran..!!”

Kemarin isteriku masih berkomunikasi dengan Bu Ana, bahkan mendiang menjanjikan akan mengirim tenaga ke Jogja. Sudah beberapa kali kami memang menggunakan jasa beliau. Sosok Bu Ana cukup dapat dipercaya, dan pelanggannya banyak di kota Jogja, Semarang dan sekitarnya. Wanita berusia 65 tahun itu memang handal dalam merekrut dan menyalurkan tenaga pembantu. Untuk setiap tenaga yang dikirimkan, pemesan memberikan fee dalam jumlah yang disepakati.

Bu Ana meninggal sepulang mengirimkan tenaga pembantu ke kota Semarang. Ia mengirim tenaga menggunakan bus umum. Begitu bersahaja, begitu sederhana. Konon, beliau adalah tulang punggung keluarga juga, dengan kecekatan dan keterampilannya mencari nafkah. Selain mengurus pengiriman tenaga, ia juga memiliki usaha sate di rumahnya. Luar biasa, di usia lebih dari 60 tahun masih giat bekerja.

Telepon yang dihubungi isteriku masih menyala, dan diterima seseorang disana. Tapi bukan Bu Ana, melainkan seseorang yang mengaku AKBP Wahyudi, dari kepolisian setempat. Bu Ana termasuk korban tewas Bus Tri Sakti tadi malam…

***

Mungkin ini skenario dari-Nya juga, agar esok dan lusa masih terus kuantar si bungsu yang cantik terjun ke alam mimpinya di pagi hari…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.