Idenya Cemerlang Rambutnya Hilang…

26 October 2010

Pengalaman bercukur rambut yang mengesankan. Awalnya aku hanya bermaksud mengantar anak laki-lakiku untuk dipangkas rambutnya, sehingga terhindar dari peringatan terus menerus dari para ustadzahnya di sekolah. Meski tampangnya lucu dan menggemaskan, dengan rambut gondrong menutup telinga, bahkan sempat dipanggil ‘Brandon’ oleh para kakak kelasnya, tetapi tetap saja seorang murid sebaiknya tidak gondrong. Jadi, ia  harus dipangkas juga.

Kesan pertama dari pangkas rambut Azzam yang terletak di dekat perempatan Jalan Kabupaten di Jalan Raya Godean itu adalah penampilan tempatnya. Menggunakan kaca yang lebar, terang dan bersih, pangkas rambut pria bergaransi ini segera memancing perhatian di malam hari. Banyak pangkas rambut tersedia di sepanjang jalan yang ramai ini, tetapi mereka penampilan tempatnya biasa saja, bahkan kadang terlihat -maaf- kumuh. Perbedaan penampilan membuat kemunculan Azzam menjadi istimewa, sebab tempat ini sebenarnya pangkas rambut biasa, bukan salon, tetapi menjadi tidak biasa karena membawa konsep perubahan dalam pelayanan.

Rasanya orang semakin sadar kualitas koq sekarang ini, sehingga ide membuat usaha pangkas rambut yang tampak bersih dan rapi segera mendapat sambutan. Malam kemarin itu saja ketika aku, isteri dan anak-anakku pergi kesana, pengunjung cukup banyak. Kami harus antri, padahal hari sudah lepas maghrib.

Ketika kami masuk ke dalam ruangan sejuk ber-AC itu seorang penunggu meja membukakan pintu kaca berbingkai alumunium, sehingga kami merasa ‘disambut’ . Pintu tersebut memang distel untuk menutup sendiri, sehingga penjaga pintu diperlukan untuk memudahkan lalu lintas orang keluar masuk.

Kami menemui sebuah meja dengan tumpukan tag plastik tanda nomor antri yang berbaris rapi. Setiap konsumen yang akan dipangkas rambutnya akan diberi nomor antrian. Konsumen tinggal duduk dan menunggu dipanggil. Kursi untuk duduk pun tergolong nyaman, bahkan ada wahana mobil-mobilan untuk anak-anak kecil yang digunakan untuk tempat duduk sewaktu mereka dipotong rambutnya atau dapat juga dipakai untuk bermain.

Semua fasilitas ditempatkan secara rapi pada ruangan yang bersih dan dilayani para pegawai pria berseragam baju coklat motif batik. Kursi duduk untuk cukur rambut menggunakan hidrolik yang bisa dinaik-turunkan dengan mudah. Mesin cukur juga tersedia sebagai piranti utama untuk mengejar kecepatan pelayanan. Penggunaan gunting hanya untuk merapikan hasil akhir pangkas rambut. Dari cara pegawai menggantungkan alat cukur listrik, dapat dilihat bahwa mereka mengikuti semacam SOP untuk pelayanan.

Para pagawai  juga menggunakan air panas dari termos untuk merendam handuk putih yang digunakan untuk mengusap wajah dan daerah sekitar rambut, untuk mengambil sisa guntingan rambut yang menempel di kulit. Ketika kulihat hal itu, batinku mengeluh kenapa di tempat lain (cukur rambut tradisional) tidak terpikir memberi pelayanan seperti itu.

Ketika kami menunggu antrian ada pegawai yang baru masuk ruangan dari belakang, rupanya baru selesai break sholat. Sekilas lalu kulihat nampak tulisan “break sholat” pada pintu kaca depan. Wah, ada tambahan nuansa religius yang tersirat. Orang harus mau menunggu jika para pegawai sedang break sholat. Menurutku itu adalah sebuah pesan, bahwa ada yang lebih penting untuk selalu mendapat prioritas. Subhanallah.

Anakku sudah menyerahkan nomor antriannya, dan aku juga ikut duduk di kursi sebelahnya, sama-sama menghadap kaca besar sebagaimana tersedia pada barber shop atau tempat cukur rambut lain. Ya, aku memang akhirnya ikut dipotong lagi rambut, karena ikut penasaran melihat seorang tamu lain dipijat pundaknya selepas dipotong rambut. Pikirku, enak tenan dipijit seperti itu… Penasaran, nyoba lah!

Setiap pengguna jasa potong rambut akan mendapat satu pisau cukur baru untuk membersihkan rambut pada finishing touch-nya. Inilah salah satu kelebihan yang kuacungi jempol. Masalah kesehatan ini masih diabaikan oleh buanyak jasa potong rambut, padahal penggunaan pisau untuk banyak pelanggan adalah sangat berbahaya. Di jaman seperti sekarang yang makin rawan penularan penyakit, maka penggunaan pisau yang mungkin sudah melukai orang lain, dan kemudian melukai kita tanpa sengaja, akan mendatangkan akibat yang mungkin sangat mematikan. Tragis sekali kalau kita tertular penyakit berbahaya tanpa kita sadari di tukang cukur.

Terakhir, konsep yang mantap dari Azzam ini adalah poin terakhirnya dari 4K dan 1 M (lupa lah 4K nya apa saja, tapi salah satunya adalah Kesehatan tadi), yakni 1M yang  merupakan kepanjangan dari Murah. Hebat, dengan semua kelebihan pelayanan ini: bersih, suasana tempat yang nyaman, aman (kesehatan), cepat dan juga ternyata murah. Cukup Rp. 6000, hasilnya tidak mengecewakan, bahkan memuaskan.

Aku yakin owner Azzam sudah memikirkan konsep tempat usahanya dengan sangat cerdas. Pada tag antrian sempat kubaca bahwa usaha ini sudah dimulai sejak 2003 dan sekarang sudah memiliki 3 cabang di Jogja. Terbetik ide, kalau konsep ini diterapkan di kota kelahiranku pasti akan laku keras…

2 Responses to “Idenya Cemerlang Rambutnya Hilang…”

  1. niniw95 Says:

    huebad…bisa pasang harga 6000 saja… ckckck…

  2. tukangpin Says:

    @niniw: betul bu, mengagumkan… positioningnya cerdas sekali…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.