Nggak Malu Punya Suami Seperti Aku?
20 Juni 2009
Inget banget. Dan berkesan banget.
Waktu itu saya baru memulai merintis pembuatan pin kayu, dan segala ‘hasil sampingan’-nya baik ganci, frame etc. Saya baru memulai juga berumah tangga dan masih berdomisili di kota kembang Bandung. Hmm, keluarga baru… bisnis yang masih prematur. Betapa berat! Hasil pekerjaan yang belum seberapa itu digunakan untuk kehidupan sehari-hari, plus membantu kuliah isteri di kedokteran gigi. Biaya kuliahnya… luarrr biasa. Alhamdulillah, harus tetap bersyukur.
Saya sekali-kali (sering deng…) berjualan di depan Bandung Indah Plaza (BIP). Waktu itu kami para pedagang kaki lima masih bebas memilih lokasi berjualan, dan tanpa ada pungutan apapun. Saya biasanya ‘mangkal’ dekat McDonnald, resto yang selalu ramai. Ramai, tapi bukan berarti dagangan saya pun ikut laris manis…
…
“Yah,” isteri saya berucap suatu waktu, “Tadi temanku lihat ayah jualan lho di BIP!”
Saya tertegun. Yang terpikir berikutnya adalah sesuatu yang membuat isteriku heran.
“Kamu nggak malu punya suami sepertiku?” saya bertanya dengan serius. Bercampur kuatir.
Dia mengernyitkan dahi.
“Haa? Maluu? Kenapa mesti maluu?” makhluk itu malah tersenyum.
“Ya.. karena aku jualan di emperan…”
Dia menggelengkan kepala.
Alhamdulillah, meski isteri berada di fakultas yang penuh dengan keglamouran, karena banyak temannya yang berasal keluarga kaya, bahkan ada yang sangat kaya, tetapi dia sangat nyaman dengan kerja suaminya. Dia tidak mengeluh apalagi malu. Bisa jadi karena kultur keluarganya adalah wiraswastawan murni dan pedagang. Subhanallah… Dukungan isteri memang luar biasa dalam meneguhkan keyakinan suami.
Padahal saya sendirilah yang sebenarnya sempat bermasalah dengan nongkrong jualan di kaki lima. Predikat sebagai sarjana, apalagi pernah aktif di kampus, membuat terkadang ada rasa gengsi dalam berjualan. Perlahan tapi pasti perasaan itu terkikis, dengan tambahan tekad agar bekal kuliah menjadikan jualan tidak berhenti hanya di emperan trotoar. Harus bisa lebih…
Teringat akan nasehat ustadz Masrukhul Amri, memang benar adanya. Satu satunya jalan untuk menghilangkan gengsi adalah meyakini bahwa GENGSI TIDAK BISA DIMAKAN! Hehe…
Perlahan tapi pasti pin kayu bergerak hingga hari ini. Gerak yang perlahan tapi pasti inilah sebenarnya yang paling susah dijalani. Orang pinter bilang ini namanya konsistensi. Wallahu a’lam, saya sih menjalani apa adanya saja…
“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.” (HR. Ahmad)
Semoga… Amiin…




