Misteri Order
27 Desember 2008
Bismillah,
Saya sempat pening, tapi akhirnya tidak bisa berbuat apa lagi kecuali pasrah dan berharap ‘keajaiban’ dari Allah. Sebagaimana biasa, urusan rejeki buat saya adalah seperti bermain dengan ‘gurauan-gurauan’ Allah. Rejeki adalah rahasia-Nya yang terkadang membuat deg-degan, ataupun terperanjat kaget.
Memang perjalanan bisnis pin kayu membuat saya sedikit terbiasa akan naik turun dan padat kosongnya order dan otomatis isi dompet sanggar kami. Tetapi yang membedakan adalah karena sekarang ini usaha kecil mungil ini sudah menyangkut belasan kru yang harus saya perjuangkan penghasilannya. Diantara mereka ada juga yang menggantungkan penghasilan yang tidak banyak ini untuk menyekolahkan anak, membeli sayur, memenuhi kebutuhan dapur. Di tengah-tengah lesunya ekonomi masyarakat dan resesi ekonomi yang terus berkecamuk, maka stress yang saya rasakan seolah membuncah-buncah.
Jam 11 malam, siapakah yang mau mengurus bisnis di waktu hampir tengah malam seperti itu? Apalagi beberapa pihak yang memiliki prospek order pun memilih menghabiskan dulu akhir tahun sebelum membuat deal. Padahal akhir tahun adalah waktunya saya membayar gaji kru sanggar dan memberi mereka bekal untuk liburan sejenak.
Tapi begitulah, kalau Allah berkehendak jadi maka jadilah. Terkadang masalah rejeki ini akan datang tanpa disangka-sangka dan menjadi kejutan yang menyenangkan. Sekaligus kejutan yang berubah menjadi ujian, sebab sedetik kita menganggap datangnya rejeki hanya ‘kebetulan’ saja, maka sejurus kemudian kita terjerembab dalam kelamnya kekufuran. Na’udzubillah min dzaalik.
Tiba-tiba saja menjelang tengah malam tanggal 26 Desember ini, seorang pembeli lama yang sempat beberapa kali order tanpa pernah saya temui orangnya, menghubungi dengan SMS. Sempat berbalas SMS beberapa kali, malam itu juga saya deal dengan beliau dan mendapatkan janji pembayaran dimuka esok paginya. Luar biasa, subhanallah.
Hari perayaan Natal bagi umat kristiani. Kami di sanggar tidak libur, karena libur akan kami satukan mulai 1 Januari 2009 selama 5 hari. Tetapi pasar benar-benar sepi dan semua menahan diri. Transaksi ditunda atau bahkan menunggu tahun baru datang. Saya melihat dengan pilu kondisi cash flow usaha pin kayu yang memprihatinkan di akhir tahun. Padahal harga bahan baku –tragisnya- semua naik.
Tapi sore hari kejutan besar masuk di inbox saya. Seorang peminat menyatakan ketertarikannya untuk menjadi prime distributor di Malaysia. Subhanallah. Itu bernilai jutaan rupiah dan sangat berarti untuk menyambung hidup sanggar kami. Betapa indah kasih sayang Allah. Terimakasih duhai Yang Maha Pengasih dan Pemurah, segala puji sungguh hanya kembali kepada-Mu.
Begitulah, diluar segala kerja keras, kesabaran dan ketekunan membuat keping demi keping pin kayu, tangan-Nya senantiasa menjadi penentu semuanya. Tugas kita adalah berusaha tanpa kenal lelah dan bekerja sebaik-baiknya menjemput rejeki Allah, dan selepas itu biarlah Dia yang menunjukkan keadilan-Nya. Tidak mungkin Dia Yang Maha Suci – subhanallah- memilki cacat dalam perbuatan-Nya menebar rejeki kepada seluruh makhluk-Nya.
Sanggar, 27 Desember 2008



