Sembari menikmati lagu minus one dari Saujana, bertajuk Keluarga Bahagia, saya menyeruput sisa kopi sambil menghadapi laptop kesayangan. Malam ini tak sedingin malam-malam kemarin, meskipun tetap saja menyampaikan pesan alam di musim kemarau. Dingin dan basah, udara luar menembus ventilasi di ruang depan sanggar kami yang sederhana.
Saya juga menghadapi lusinan tuding quran yang harus diselesaikan untuk segera dikirim ke Ipoh-Perak. Sesekali jari jemari harus melepas lidi dan tuding, untuk mengetik kata berbalas kalimat dengan seseorang yang spesial nun jauh di Selangor sana. Painting and chatting…
Aish, bukan sembarang sahabat yang saya kenal di dunia maya. Lebih dari sekadar teman chatting, meski hampir setiap malam menegur sapa. Terkadang kami terlibat dalam perbincangan hangat dan penuh makna, meski seringnya berwarna senda gurau.
Meski saya lebih suka menempatkannya sebagai sahabat bahkan saudara, tetapi ia sebenarnya customer pin kayu pertama. Kalau ada yang bertanya –beberapa orang pernah melakukannya- tentang bagaimana pin kayu dapat menjejak di Malaysia, maka otomatis saya harus membicarakan Aish.
Pula saya akan berbicara tentang cara menembus pasar global melalui internet, meskipun saya pastikan bahwa pengalaman saya samasekali bukan tips terbaik, atau rujukan mujarab, untuk memulai bisnis online. Sampai sekarang pun peredaran pin kayu belum dapat dikatakan sudah benar-benar online. Paling tidak, pengalaman saya boleh dijadikan cermin saja untuk memulai dengan lebih baik.
Lebih baik? Tentu saja, karena saya tidak faham internet. Tidak tahu bahasa mesin yang bernama PC, bahasa HTML etc. Melihat kode-kodenya saja dapat membuat pusing. Saya sudah berusaha membekali diri dengan membaca buku panduan sederhana untuk internet marketing dan blogging. Tapi tetap saja bekal semua literatur tadi, ditambah ilmu yang terbatas membuat langkah awal saya boleh dikatakan nekat. Nekat karena nyaris menenggelamkan sanggar pin kayu dengan badai defisit usaha yang parah.
Sanggar kami mengalami kegoncangan selepas gempa bumi dahsyat yang menelan 6000 jiwa lebih tewas di Bantul dan sekitarnya. Market pin kayu meredup, sejalan melemahnya ekonomi negara. Saya terpaksa menelan pil pahit kemunduran sanggar, padahal beberapa saat sebelumnya kami telah mulai menikmati hasil program Pin Kayu Go Indonesia. Kami telah mengirim barang hingga ke kota-kota yang entah kapan dapat kami kunjungi secara langsung, di pulau Jawa, Sumatera (hingga Aceh), Kalimantan, Sulawesi bahkan Papua.
Di saat goncang seperti itulah, saya menambah derita dengan pengeluaran yang besar untuk urusan internet dan tetek bengeknya. Padahal cash inflow sedang sempit, dan pasar sangat lesu. Gaji karyawan dipotong untuk sekadar bertahannya sanggar. Meningkatkan cash inflow dengan menaikkan harga jual adalah pilihan yang nyaris mustahil dilakukan.
Saya memutuskan untuk mengganti orientasi marketing pin kayu. Kami harus mendapatkan better price, atau sanggar akan stopped. Sekali lagi kami HARUS mendapat market baru. Pilihan eksport pin kayu adalah sebuah harapan, meskipun saya tak tahu bagaimana menembus rintangannya.
Saya hanya punya tekad dan keyakinan bahwa insya Allah pasti ada jalan. Mulailah saya dengan mengajukan kredit pembelian personal computer dan menyambungkan PC tersebut dengan dunia maya. Sambil mengalami ketegangan, takut akan meledaknya tagihan telepon, saya nekad menggunakan fasilitas Telkom Instant. Boleh ditebak, selama 3 bulan pertama, saya harus menelan kegetiran menyaksikan tagihan ‘tidak patut’ telepon hingga berjuta-juta, manakala menyaksikan salary kru sanggar saya seolah terabaikan. Sungguh pilihan yang pahit. Saya harus meminggirkan perasaan, dan merelakan mereka yang tidak punya pilihan lain selain meninggalkan sanggar. Saya hanya punya keyakinan, bahwa pasti ada hasil. Tidak mungkin tidak, karena saya yakin Tuhan tidak tidur dan Dia Mahaadil.
Saya menebar pesan perkenalan pertama dari tukang pin, sambil mengajak berkunjung ke blog gratisan saya di blogspot, yang dibangun dengan susah payah. Bahkan membangun blog pun harus ditebus dengan cemberutnya jauzah, sambil mengingatkan akan tagihan telepon yang bukan hanya naik, tapi meledak 1000%.
Mengirim pesan lewat friendster bukannya tanpa resiko. Saya mengirim ratusan pesan dalam bahasa Indonesia dan English seadanya, sambil menangguk resiko dikategorikan sebagai spammer. Sedikit banyak saya telah mempelajari hal tersebut, tapi merasa bahwa hal tersebut ‘terpaksa’ harus dilakukan, dengan harapan biarlah meski hanya 1% yang mengunjungi blog, tetapi semoga membawa hasil untuk mengenalkan produk.
Saya tidak percaya diri dengan layout blog, atau bahasa pujuk rayu. Hal pertama yang saya bawa, sejak pin kayu dibuat di tahun 99, adalah convidence akan keunikan pin kayunya sendiri.
Boleh dikata: tak ada hasil. Saya hampir merasa bahwa friendster hanyalah tempat orang membuang waktu dan mencari teman semata, meski terkadang ada juga yang ‘berjualan’. Saat itulah saya mulai melirik situs lain, semacam multiply. Tetapi belum juga tergerak menggunakan multiply, karena lamanya proses loading dan melihat kondisi di dalamnya yang seolah ‘bukan tempat jualan’.
Orkut. Nama yang aneh, tapi nyata ada di dunia maya. Tiba-tiba saya tersesat didalamnya, dan mulai melakukan hal yang sama seperti di friendster. Saya mulai membuat fokus pencarian calon pembeli di Malaysia, dan menanti dengan semangat yang setengah-setengah. Kenapa? Sebab saya tak begitu suka dengan Orkut, situs sosial milik Google yang bernama aneh ini.
Tapi Allah SWT Maha Berkehendak. Ratusan bahkan ribuan mesej sudah saya kirimkan di friendster, milis dan sebagainya, sementara sedikit saja salam perkenalan saya sebar lewat orkut. Tetapi nyatanya tiba-tiba muncul seorang pembawa pesan, bahwa impian tukang pin boleh menjad kenyataan. Dialah tokoh yang saya sebut dimuka tulisan ini, Aish.
Tak terkira rasa gembira dan keharuan saat melepas pakej pertama ke Selangor. Jauzah pun seperti rasa tak percaya juga. Bukan jumlah pin dan nilai uang yang dikirimkan yang membuat kesyukuran tak henti hingga malam ini. Air mata pun seakan tak tak dapat ditahan untuk kembali menetes, membayangkan kasih sayang Allah yang tergambar dalam episode pengiriman pertama pin kayu.
Sungguh Allah adalah Dzat Yang Membolak-balik hati dan perasaan. Saya tidak mungkin mengirim pakej pin kayu pertama kali, tanpa sebuah hal yang paling mahal: kepercayaan. Siapa yang mengizinkan Aish percaya untuk mengirim payment pertama untuk saya – seseorang yang tidak dikenalnya- pada saat itu? Dialah Allah. Subhanallah…
Meski saya sebarkan ribuan pesan perkenalan pin kayu, sejak awal saya menilai bahwa kepercayaan dan ukhuwwahlah yang lebih berharga dari transaksi pin kayu. Bisnis boleh berhenti, tetapi silaturahim tidak boleh putus samasekali. Tentu tak semua percaya juga, apalagi melihat sosok ‘tukang pin yang jualan banget’ di dunia maya.
Tapi setidaknya melihat Aish, segala sesuatu keraguan boleh terbantahkan. Hingga kini ia menjadi sahabat terbaik, saudara yang penuh perhatian dan kepedulian, entah ada bisnis atau tidak. Ya Allah, semoga betapa indahnya…
Semoga Engkau –Ya Rabb- limpahkan kebahagiaan kepadanya. Kepada keluarganya. Kepada siapapun yang atas nama-Mu beritikad membangun persaudaraan dan mengikhlaskannya hanya karena-Mu.

2 Responses to “Aish, My First and Unforgetable Customer!”

  1. aish wrote Says:

    assalamualaikum…
    I just finish reading ur blog… I was speechless..even almost cry… I didnt know u were in a situasi like that…susah senang membangunkan sebuah produksi yg boleh dibanggakan sekarang. thanks so much 4 sharing the story.
    what I learn in life is… dont ever give up.. Allah gave rezeki to us in a way we least expected. just dont ever loose hope. i fall in love with “pinkayu” like.. cinta pandang pertama. it was so cute. I follow my instincts n heart when I ordered it. I hv no reason not to trust u. that’s how the 1st order became a reality. Sorry 4 not being a dealer.. just never been good in business.
    Ooooppppss hv 2 stop now.. the more I talk..the more I became the serious type. Hehehe. Anyway.. million thanks 4 a wonderful blog entry. U made my day! Take care wslm.

  2. tukangpin Says:

    thanks, aish…
    ikutan speechless juga
    termenung-menung :)


Leave a Reply